Antisipasi Kelangkaan, Pemkab Lambar Ajukan Penambahan Kuota LPG 3 Kg

Kupasmedia.co – Pemerintah Kabupaten Lampung Barat melalui Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan (Kopdag) mengajukan penambahan kuota tabung gas LPG bersubsidi 3 kilogram menjelang Hari Raya Idul Fitri. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengantisipasi lonjakan kebutuhan masyarakat selama bulan Ramadhan hingga mendekati Lebaran. Usulan tersebut telah disampaikan kepada PT Pertamina Patra Niaga.

Kabar baiknya, permohonan itu telah mendapat respon dan segera ditindaklanjuti pihak terkait. Pengajuan penambahan kuota LPG bersubsidi itu menjadi langkah cepat pemerintah daerah menjaga stabilitas pasokan energi rumah tangga. Terlebih, permintaan gas melon cenderung meningkat signifikan menjelang hari raya. Kondisi ini juga kerap memicu kelangkaan di sejumlah wilayah, pemerintah daerah berupaya memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

Langkah tersebut juga merupakan tindak lanjut dari meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap gas LPG 3 kilogram dalam beberapa pekan terakhir. Selain karena momentum Ramadhan, aktivitas rumah tangga dan pelaku usaha kecil juga turut mendorong meningkatnya konsumsi gas bersubsidi tersebut. Situasi ini membuat pemerintah daerah harus bergerak cepat. Upaya antisipasi pun dilakukan agar pasokan tetap aman.

Pemerintah Kabupaten Lampung Barat juga merespons keluhan masyarakat yang mengaku kesulitan mendapatkan gas LPG 3 kilogram. Keluhan tersebut terutama datang dari warga di wilayah Kecamatan Balik Bukit. Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat mengaku harus berkeliling mencari pangkalan untuk mendapatkan gas melon. Kondisi itu pun menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Sejumlah warga bahkan mengaku stok LPG bersubsidi di tingkat pengecer maupun pangkalan kerap habis dalam waktu singkat. Hal ini diduga dipicu oleh tingginya permintaan yang tidak sebanding dengan jumlah pasokan yang tersedia. Situasi tersebut membuat sebagian masyarakat harus mengantre lebih lama. Bahkan ada yang tidak kebagian tabung gas.

Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Lampung Barat, Syafarudin, menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan PT Pertamina terkait kondisi tersebut. Koordinasi dilakukan untuk memastikan distribusi gas LPG bersubsidi dapat berjalan lancar. Selain itu, pemerintah daerah juga meminta adanya penambahan kuota fakultatif. Tujuannya agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

Menurutnya, penambahan kuota LPG 3 kilogram sangat penting menjelang Hari Raya Idul Fitri. Sebab, pada momen tersebut kebutuhan gas untuk memasak biasanya meningkat drastis. Tidak hanya rumah tangga, pelaku usaha kecil seperti pedagang makanan juga sangat bergantung pada gas bersubsidi tersebut. Oleh karena itu, pemerintah berupaya menjaga ketersediaannya.

“Selain mengajukan penambahan kuota, pemerintah daerah juga berencana menggelar operasi pasar gas LPG 3 kilogram. Operasi pasar ini diharapkan dapat membantu masyarakat mendapatkan gas dengan harga sesuai ketentuan. Langkah tersebut juga menjadi salah satu strategi untuk menekan potensi kelangkaan di lapangan. Terutama di wilayah yang mengalami lonjakan permintaan,” kata dia.

Operasi pasar tersebut direncanakan akan difokuskan di beberapa wilayah yang dinilai membutuhkan perhatian lebih. Salah satunya adalah Kecamatan Balik Bukit yang belakangan menjadi sorotan masyarakat. Pemerintah daerah berharap kegiatan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan warga. Sekaligus menjaga stabilitas distribusi gas bersubsidi.

Di sisi lain, Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Lampung Barat juga telah melakukan inspeksi mendadak atau sidak ke sejumlah agen dan pangkalan LPG yang dipimpin Asisten ll Pemkab Lampung Barat, Pirwan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan distribusi gas LPG berjalan sesuai aturan. Pemerintah ingin memastikan tidak terjadi penimbunan atau penyalahgunaan distribusi. Pengawasan ini juga untuk menjaga keadilan bagi masyarakat.

Sidak tersebut juga menjadi tindak lanjut dari ramainya pemberitaan mengenai antrean warga yang ingin mendapatkan gas LPG 3 kilogram. Antrean itu terjadi di salah satu agen gas yang berada di Pekon Padang Cahya, Kecamatan Balik Bukit. Peristiwa tersebut bahkan sempat viral di media sosial. Banyak warga terlihat mengantre untuk mendapatkan gas melon.

Dalam video yang beredar, tampak puluhan ibu-ibu menunggu giliran untuk membeli gas LPG bersubsidi. Situasi tersebut menggambarkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap gas melon. Antrean panjang itu pun memicu perhatian berbagai pihak. Termasuk pemerintah daerah yang segera melakukan langkah penanganan.

Pemerintah Kabupaten Lampung Barat menilai kondisi tersebut perlu segera disikapi agar tidak menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, koordinasi dengan pihak Pertamina terus dilakukan. Pemerintah daerah ingin memastikan distribusi LPG bersubsidi tetap berjalan normal. Sehingga masyarakat tidak kesulitan mendapatkan kebutuhan energi rumah tangga.

Selain itu, pemerintah juga mengimbau para agen dan pangkalan LPG untuk menyalurkan gas bersubsidi sesuai ketentuan yang berlaku. Penyaluran harus diprioritaskan bagi masyarakat yang memang berhak menerima subsidi. Dengan demikian, distribusi dapat berjalan lebih tepat sasaran. Hal ini juga penting untuk menjaga stabilitas pasokan di lapangan.

“Kita juga sudah memperingatkan para pangkalan gas LPG agar menjual gas sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jika ditemukan pelanggaran, tentu akan kami tindaklanjuti,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Lampung Barat berharap dengan adanya penambahan kuota, operasi pasar, serta pengawasan distribusi, ketersediaan LPG 3 kilogram tetap terjaga. Upaya ini dilakukan agar masyarakat dapat menjalani bulan Ramadhan hingga Hari Raya Idul Fitri dengan tenang. Kebutuhan energi rumah tangga diharapkan tetap terpenuhi. Pemerintah juga berkomitmen terus memantau kondisi distribusi gas bersubsidi di daerah tersebut.

Sebelumnya diberitakan, Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram dikabarkan terjadi di Kecamatan Balik Bukit, Rabu (4/3/2026). Di tengah bulan Ramadan, puluhan warga terpaksa mengantre panjang demi mendapatkan gas bersubsidi tersebut. Antrean bahkan terlihat mengular di sejumlah pangkalan karena pasokan yang datang terbatas, sementara kebutuhan masyarakat meningkat.

Di Pekon Padang Cahya dan Desa Sebarus misalnya, menunjukkan warga sudah berdatangan sejak sore hari dengan membawa tabung gas kosong. Antrean terlihat memanjang hingga puluhan meter di depan pangkalan LPG. Mayoritas warga yang mengantre merupakan ibu rumah tangga yang khawatir tidak kebagian karena stok yang tersedia cepat habis begitu didistribusikan.

Salah seorang warga mengaku kelangkaan gas LPG 3 kilogram mulai dirasakan dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut kerap terjadi menjelang hari besar keagamaan, namun kali ini dirasakan lebih cepat meski Ramadan baru berjalan setengah bulan. “Sekarang langka gas LPG. Kami ngantre sudah seperti ngantre sembako. Ini masih pertengahan puasa saja sudah susah, padahal kebutuhan masak meningkat,” ujarnya.

Keluhan serupa juga disampaikan warga Desa Sebarus yang menyebut gas 3 kilogram sulit ditemukan baik di pangkalan resmi maupun di tingkat pengecer. Selain sulit didapat, harga gas di warung juga dilaporkan mulai naik hingga mencapai Rp30 ribu per tabung karena stok terbatas. Warga pun berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera turun tangan memastikan distribusi LPG kembali normal, terutama menjelang Lebaran saat kebutuhan rumah tangga diperkirakan semakin meningkat. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *