Kupasmedia.co – Sebanyak 693 siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) sederajat di Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat, menerima seragam sekolah gratis dari pemerintah daerah. Bantuan tersebut tidak hanya berupa pakaian sekolah, tetapi juga dilengkapi buku tulis untuk menunjang kebutuhan belajar siswa. Pembagian berlangsung di SMP Negeri 1 Sukau, Senin (7/9/2026), sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah meringankan beban biaya pendidikan yang harus ditanggung orang tua.
Setiap siswa menerima tiga setel seragam sekolah, yakni seragam putih-merah, seragam Pramuka, dan seragam batik. Selain pakaian sekolah, siswa juga mendapatkan buku tulis yang dapat digunakan untuk menunjang kegiatan belajar di sekolah. Bantuan tersebut diberikan kepada siswa SD dan SMP sederajat di Kecamatan Sukau dengan harapan kebutuhan perlengkapan dasar sekolah tidak lagi menjadi beban yang terlalu besar bagi keluarga.
Pembagian seragam gratis itu dihadiri Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus, Wakil Bupati Mad Hasnurin, Kepala Dinas Pendidikan Lampung Barat Tati Sulastri, anggota DPRD Lampung Barat Nopiyadi dan Bambang Dwi Saputra, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), camat, unsur TNI-Polri dan perwakilan masyarakat. Program tersebut menjadi salah satu kebijakan pemerintah daerah untuk memperluas dukungan terhadap akses pendidikan sekaligus memastikan persoalan biaya tidak menjadi alasan anak berhenti sekolah.
Bagi sebagian orang tua, kebutuhan seragam dan perlengkapan sekolah menjadi pengeluaran yang cukup terasa, terutama ketika anak memasuki tahun ajaran baru. Dengan adanya bantuan tiga setel seragam dan buku tulis, pemerintah berharap sebagian kebutuhan tersebut dapat dipenuhi tanpa harus kembali dibebankan kepada keluarga. Kebijakan ini sekaligus menjadi bentuk intervensi pemerintah dalam membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pendidikan anak.
Perwakilan wali murid, Meliana, menyampaikan apresiasi atas program tersebut. Menurutnya, pemberian seragam gratis sangat membantu orang tua karena harga perlengkapan sekolah yang harus dibeli untuk anak cukup besar jika ditanggung sendiri. Ia berharap program tersebut dapat terus dilanjutkan dan bila memungkinkan diperluas ke kebutuhan sekolah lainnya.
“Terima kasih atas pembagian seragam gratis ini kepada putra-putri kami di Kecamatan Sukau. Kalau harus membeli sendiri tentu biayanya cukup mahal,” ujar Meliana. Ia juga menyampaikan harapan agar bantuan tersebut ke depan dapat dilengkapi dengan sepatu sekolah, sehingga semakin banyak kebutuhan pendidikan siswa yang dapat terbantu.
Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus mengatakan pemberian seragam gratis merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap pendidikan. Menurutnya, pemerintah tidak hanya menjalankan program seragam gratis, tetapi juga menyiapkan sejumlah program lain untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memperluas kesempatan masyarakat mendapatkan pendidikan sesuai dengan potensi yang dimiliki.
Selain program seragam gratis, pemerintah daerah juga menyiapkan sejumlah program, di antaranya beasiswa kedokteran, dukungan bidang seni dan budaya, olahraga, pendidikan bagi calon guru sekolah dasar, serta program kewirausahaan. Berbagai program tersebut, kata Parosil, diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat Lampung Barat untuk meningkatkan pendidikan sekaligus mengembangkan kemampuan dan potensi generasi muda.
Parosil menegaskan, bantuan yang telah diberikan pemerintah harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Karena itu, ia meminta sekolah, termasuk sekolah swasta dan yayasan, tidak kembali membebankan pembelian seragam kepada orang tua, terutama untuk pakaian olahraga. Menurutnya, pungutan tambahan untuk kebutuhan seragam dapat mengurangi manfaat program pemerintah dalam meringankan biaya pendidikan keluarga.
“Kalau masih ada iuran untuk membeli kaos olahraga, program yang sudah ada tidak akan sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh orang tua. Karena itu saya minta dukungan dan kerja sama sekolah serta yayasan agar kebutuhan tersebut tidak terlalu membebani orang tua,” kata Parosil.
Ia meminta sekolah yang masih melakukan pengumpulan biaya untuk pembelian pakaian olahraga agar mengevaluasi kebijakan tersebut. Pemerintah daerah, menurutnya, telah berupaya mengurangi beban keluarga melalui berbagai program sehingga kebijakan di tingkat sekolah juga harus berjalan searah dengan tujuan tersebut. Sekolah diharapkan dapat mendukung kebijakan pemerintah dengan tidak menambah beban biaya yang seharusnya masih dapat diupayakan melalui sumber lain.
Menurut Parosil, saat ini siswa di Lampung Barat telah mendapatkan dukungan melalui sejumlah program, termasuk seragam gratis, buku tulis, serta program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia juga menyebut tidak adanya lagi pungutan uang komite di sekolah sebagai bagian dari upaya pemerintah mengurangi beban keluarga dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak.
“Sekarang seragam sudah ada, tiga setel sudah dibagikan, yaitu putih-merah, Pramuka dan batik, kemudian ada buku tulis dan siswa juga mendapatkan MBG. Uang komite juga sudah tidak ada lagi. Tinggal bagaimana kita bersama-sama mendukung program pemerintah untuk kemajuan pendidikan di Lampung Barat,” ujarnya.
Karena itu, Parosil meminta tidak boleh ada lagi anak di Lampung Barat yang berhenti sekolah hanya karena persoalan ekonomi. Ia meminta pemerintah pekon, guru, serta unsur masyarakat di tingkat bawah ikut aktif mengidentifikasi anak yang tidak melanjutkan pendidikan agar persoalannya dapat segera ditangani. Menurutnya, keberadaan berbagai program bantuan pendidikan harus diikuti dengan pengawasan bersama agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan untuk bersekolah.
Ia juga mengajak peratin, dewan guru, serta Bhabinkamtibmas dan Babinsa untuk berkoordinasi apabila menemukan anak yang putus sekolah. Setiap kasus, kata dia, harus dicari penyebab dan jalan keluarnya bersama-sama, sehingga anak tetap dapat memperoleh haknya untuk mendapatkan pendidikan. Program seragam dan perlengkapan sekolah tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah untuk mengurangi beban keluarga sekaligus memperkuat upaya menekan angka putus sekolah di Lampung Barat.
“Kalau ada anak yang putus sekolah, saya minta peratin, guru, Babinsa dan Bhabinkamtibmas segera berkoordinasi. Kita cari solusinya bersama. Jangan sampai masih ada anak yang putus sekolah di Lampung Barat,” kata Parosil.
Pemerintah daerah berharap dukungan dari sekolah, keluarga dan masyarakat dapat membuat berbagai program pendidikan yang telah disiapkan benar-benar memberikan manfaat, bukan hanya dalam memenuhi kebutuhan siswa, tetapi juga memastikan setiap anak di Lampung Barat memiliki kesempatan untuk terus belajar dan menyelesaikan pendidikannya. (*).










