Kupasmedia.co – Selama lebih dari tiga dekade, Star Energy Geothermal Salak Ltd. (SEGS) terus berkontribusi dalam penyediaan energi panas bumi di Jawa Barat. Memasuki usia 32 tahun operasional, perusahaan kini mengoperasikan pembangkit dengan kapasitas terpasang mencapai 403,2 megawatt (MW), sembari menjalankan berbagai upaya pengelolaan lingkungan dan konservasi di bentang alam Halimun-Salak yang memiliki nilai penting bagi keanekaragaman hayati.
Kapasitas pembangkitan tersebut berasal dari sejumlah unit pembangkit yang telah beroperasi di wilayah Salak. Unit 1, 2, dan 3 memiliki kapasitas sebesar 180 MW, sedangkan Unit 4, 5, dan 6 menghasilkan 208,7 MW. Selain itu, SEGS juga mengoperasikan Binary Power Plant berkapasitas 14,5 MW yang mulai beroperasi pada 2025. Pengembangan pembangkit masih berlanjut melalui Unit 7 dengan kapasitas 40 MW yang direncanakan mulai beroperasi secara komersial pada Desember 2026.
Jika pengembangan Unit 7 tersebut terealisasi sesuai rencana, kapasitas pembangkitan panas bumi di Salak akan meningkat menjadi sekitar 443 MW. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya SEGS meningkatkan kontribusi energi terbarukan sekaligus mengoptimalkan sumber daya panas bumi yang telah tersedia tanpa memperluas jejak operasi secara berlebihan.
Kepala Teknik Panas Bumi Star Energy Geothermal Salak Ltd., Irwan Januar K. Hasbullah, mengatakan pengalaman selama lebih dari tiga dekade menunjukkan bahwa keberlanjutan operasi panas bumi membutuhkan perspektif jangka panjang. Menurutnya, peningkatan kapasitas dan efisiensi pembangkitan harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan di sekitar wilayah operasi.
“Selama lebih dari tiga dekade, Salak terus menghasilkan energi terbarukan yang andal sekaligus berkembang melalui peningkatan efisiensi dan optimalisasi sumber daya yang telah ada. Bagi kami, pertumbuhan juga harus berjalan dengan disiplin dalam membatasi footprint operasi serta menjaga ekosistem tempat kami beroperasi,” kata Irwan.
Dari total wilayah kontrak sekitar 10.000 hektare, fasilitas panas bumi Salak saat ini menggunakan sekitar 236 hektare atau kurang dari 2,4 persen. Area tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan operasional, mulai dari fasilitas pembangkit, well pad, jalan akses hingga fasilitas pendukung lainnya. Pengelolaan luasan tersebut menjadi salah satu bagian dari pendekatan SEGS dalam membatasi jejak kegiatan operasional di kawasan Halimun-Salak.
Di sisi lingkungan, SEGS menjalankan program restorasi ekosistem dan pemantauan keanekaragaman hayati sebagai bagian dari pengelolaan jangka panjang. Salah satunya dilakukan melalui Green Corridor Initiative yang telah merestorasi sekitar 275 hektare habitat dengan menanam sekitar 250.000 tanaman dari 30 jenis pohon asli Halimun-Salak. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menambah tutupan vegetasi, tetapi juga memulihkan fungsi habitat serta memperkuat konektivitas ekologis.
Upaya tersebut turut disertai pemantauan terhadap perkembangan kondisi keanekaragaman hayati. Pada periode 2023 hingga 2025, indeks keanekaragaman fauna Shannon-Wiener tercatat meningkat dari 2,50 menjadi 3,20. Sementara itu, indeks keanekaragaman flora meningkat dari 2,52 menjadi 2,67. Pemantauan kerapatan tajuk juga menunjukkan tutupan berada pada kisaran 60 hingga 80 persen, tanpa kecenderungan penurunan progresif yang teramati sepanjang periode monitoring 2014 hingga 2025.
Head of Social Investment, Policy and Communications Star Energy Geothermal, Laksmi Prasvita, mengatakan keberhasilan restorasi tidak semata-mata diukur dari jumlah pohon yang ditanam. Menurutnya, aspek yang lebih penting adalah sejauh mana restorasi mampu mengembalikan fungsi habitat serta menjaga konektivitas ekologis di kawasan tersebut.
“Bagi kami, restorasi bukan sekadar menghitung berapa banyak pohon yang ditanam. Yang lebih penting adalah apakah fungsi habitat dan konektivitas ekologisnya kembali. Karena itu, kami menggunakan data dan pemantauan jangka panjang untuk memahami perubahan yang terjadi dan menentukan tindakan berikutnya,” ujar Laksmi.
Pendekatan berbasis data tersebut juga dilakukan melalui kolaborasi dengan pemerintah, pengelola kawasan konservasi, peneliti, serta organisasi konservasi. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah Java-wide Leopard Survey (JWLS) di bentang alam Halimun-Salak. Dalam survei tersebut, sebanyak 240 kamera pengintai dipasang pada 120 petak survei untuk memperoleh data mengenai keberadaan dan kondisi populasi satwa liar.
Hasil survei berhasil mengidentifikasi 51 individu Macan Tutul Jawa, termasuk tiga ekor anakan. Survei lapangan di Halimun-Salak tersebut merupakan bagian dari kerja multipihak yang diharapkan dapat memberikan gambaran ilmiah mengenai kondisi populasi, penggunaan ruang, serta kebutuhan pemantauan dan langkah konservasi selanjutnya.
Selain Macan Tutul Jawa, pemantauan terhadap Elang Jawa di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) juga dilakukan. Hasil pemantauan mendokumentasikan 10 sarang aktif, yang terdiri dari tujuh sarang di wilayah Gunung Salak dan tiga sarang di Gunung Halimun. Data tersebut menjadi informasi penting untuk memahami kondisi habitat serta wilayah perkembangbiakan salah satu spesies penting di kawasan tersebut.
Upaya keberlanjutan SEGS juga mencakup masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasi. Sepanjang 2024 hingga 2025, berbagai program di bidang lingkungan, kesehatan, dan pendidikan disebut telah menjangkau lebih dari 1.500 penerima manfaat langsung. Program tersebut antara lain layanan kesehatan bagi 1.019 warga, pemberian beasiswa kepada 27 mahasiswa, serta peningkatan kompetensi 144 guru di enam sekolah.
Di sektor ekonomi, keberadaan operasi panas bumi Salak juga membuka peluang bagi tenaga kerja lokal. Saat ini terdapat sekitar 1.100 tenaga kerja kontraktor yang terlibat dalam kegiatan operasional, dengan sekitar 88 persen di antaranya berasal dari wilayah Sukabumi dan Bogor. Keberadaan tenaga kerja lokal tersebut menjadi salah satu bentuk keterlibatan masyarakat sekitar dalam aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan operasional panas bumi.
Dengan kapasitas pembangkitan yang terus dikembangkan, pengelolaan footprint operasi, restorasi habitat, pemantauan keanekaragaman hayati, serta program pemberdayaan masyarakat, SEGS menyatakan akan melanjutkan pengembangan operasi Salak dengan pendekatan yang menghubungkan aspek energi, ekosistem, dan masyarakat. Pendekatan tersebut diarahkan agar peningkatan kontribusi energi bersih tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan bentang alam Halimun-Salak. (*).










