SEGSS Mulai Rehabilitasi 15 Hektare Kawasan Terdegradasi di TNBBS, Target Pulihkan 115 Hektare Hingga 2027

Kupasmedia.co – PT Star Energy Geothermal Suoh Sekincau (SEGSS) memulai rehabilitasi tahap awal seluas 15 hektare di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), tepatnya di sepanjang koridor jalan proyek. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal dari program restorasi bentang alam yang menargetkan pemulihan total 115 hektare kawasan terdegradasi hingga 2027.

Program rehabilitasi tersebut merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung pemulihan fungsi ekologis kawasan konservasi melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, konservasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

Pada tahap pertama tahun 2026, SEGSS menargetkan rehabilitasi seluas 65 hektare. Luasan itu terdiri atas 15 hektare di sepanjang koridor jalan proyek dan 50 hektare kawasan terdegradasi yang telah diidentifikasi bersama Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS).

Sementara pada 2027, rehabilitasi akan dilanjutkan pada 50 hektare kawasan terdegradasi lainnya. Dengan demikian, total kawasan yang dipulihkan melalui program tersebut mencapai 115 hektare.

Head of Social Investment, Policy, and Corporate Communication Star Energy Geothermal, Laksmi Prasvita, mengatakan rehabilitasi tahap awal merupakan bagian dari upaya jangka panjang perusahaan untuk mendukung pemulihan bentang alam sekaligus mengembalikan fungsi ekologis kawasan TNBBS.

“Rehabilitasi tahap awal ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang SEGSS dalam mendukung pemulihan bentang alam dan fungsi ekologis kawasan. Melalui rehabilitasi seluas 115 hektare, kami berharap dapat berkontribusi nyata pada perlindungan keanekaragaman hayati dan penguatan ketahanan ekosistem di TNBBS,” kata Laksmi dalam keterangan tertulis, Rabu (22/7/2026).

Program rehabilitasi tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan menanam berbagai jenis pohon asli TNBBS. Seluruh spesies dipilih berdasarkan hasil kajian ilmiah serta disesuaikan dengan karakteristik ekosistem setempat agar mampu mempercepat pemulihan tutupan vegetasi.

Selain memulihkan vegetasi, penanaman pohon juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas habitat satwa liar serta memperkuat fungsi ekologis kawasan konservasi secara berkelanjutan.

Secara keseluruhan, program ini menargetkan penanaman 97 spesies pohon asli TNBBS. Namun pada tahap awal, rehabilitasi difokuskan pada sekitar 10 spesies utama, yakni Pulai, Damar, Meranti, Medang, Merawan, Blangiran, Ketapang, Kayu Manis, Duku Hutan, dan Ficus spp.

Pemilihan jenis pohon tersebut didasarkan pada hasil Environmental Impact Assessment (EIA) dan telah memperoleh persetujuan teknis dari BBTNBBS. Langkah itu dilakukan untuk memastikan tanaman yang digunakan sesuai dengan kondisi ekologis kawasan serta mampu mendukung keberhasilan pemulihan habitat dalam jangka panjang.

Laksmi menegaskan, program rehabilitasi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk menunjukkan bahwa pengembangan energi panas bumi dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan.

“Melalui program ini, SEGSS berupaya menunjukkan bahwa pengembangan energi panas bumi dapat berjalan berdampingan dengan upaya konservasi, sehingga mampu memberikan manfaat bagi ketahanan energi nasional sekaligus keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

Dalam pelaksanaan rehabilitasi, SEGSS juga melibatkan masyarakat sekitar melalui penguatan Kelompok Tani Hutan (KTH) dan Kelompok Wanita Tani (KWT). Pelibatan masyarakat dilakukan agar proses pemulihan kawasan turut memberikan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan kapasitas warga dalam pengelolaan lingkungan.

Selain itu, perusahaan mengembangkan nursery lokal, memberikan pelatihan pembibitan dan rehabilitasi lahan, serta melakukan pemantauan keanekaragaman hayati dan pengelolaan koridor satwa sesuai arahan instansi terkait.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, program restorasi bentang alam diharapkan tidak hanya mempercepat pemulihan kawasan terdegradasi di TNBBS, tetapi juga memperkuat perlindungan keanekaragaman hayati, memberdayakan masyarakat sekitar kawasan hutan, dan mendukung pengembangan energi panas bumi yang berkelanjutan.(*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *